Tembakau dan Kopi


Dimana ada kopi, disitu diriku termotivasi.
Pernah dengar pepatahnya, ‘dimana ada gula, disitu ada semut.’ Ya, terkadang kita perlu sedikit berbagi tentang ini, sesuai dengan kalimatnya yang mudah dipahami sebagai bentuk apresiasi kepada penikmat kopi. Sedikit banyaknya orang yang sudah banyak menghabiskan waktunya untuk berpikir, dia akan lelah dan mengantuk. Hal tersebut terungkap bahwa setiap manusia pasti punya batasan, dan batasan inilah yang membuatnya menjadi lebih teratur untuk melakukan suatu tindakan, seperti bekerja, kuliah/sekolah, maupun melakukan hal dengan hobinya.

Pernahkah teman-teman berpikir bahwa kopi memiliki efek yang sama halnya dengan kehidupan ini. Bukan sekedar tentang rasa pahit ataupun manisnya kopi, dan bukan juga tentang membanding itu dengan kehidupan kita. Itu sudahlah biasa dan hal yang lumrah dialami para penikmatnya. Tidak semua orang menikmati kopi dan tidak semua orang menyukainya. Paham atau tidaknya seseorang itu diatur pada produktivitas individu, mengenai diri sendiri (Self reminder), atau juga menyesuaikan diri dengan lingkungannya (adaptasi lingkungan).

Berperanlah, bukan baperan.
Jangan pernah kita merasa, karna merasa itu tidak baik. Bawa perasaan (baper) memang bukan bahasa asing lagi, apalagi di zaman sekarang, semua serba singkatan. Sampai saat ini orang sudah banyak mengetahui tentang itu dan memaknai artinya.

Saat kita merasa senang, otomatis kita termotivasi untuk melakukan hal yang sudah kita pikirkan. Orang lain tidak peduli dengan itu, dan tidak akan mau mengetahui tentang itu.

Tinggalkan komentar