Udah Jadi Kebiasaan!

(Foto : M. Arzuqul Fadli (Menikmati sungai kecil dan tebing-tebing hijau, Sibolangit, 2023)

Oleh : M. Arzuqul Fadli, S.Sos

Setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda-beda, terutama pada apa yang dilakukannya dan aktifitasnya sehari-hari. Dalam hal ini bahasan kita mengenai kebiasaan yang sehari-hari kita lakukan, yaitu bersandarkan prinsip dan norma serta moral yang tertanam pada diri seseorang.

Kebiasaan sering kali dilakukan oleh banyak orang dan tatanan hidup manusia, kebiasaan juga mempelopori adanya aktifitas yang secara naluri itu hal yang lumrah dan terkadang juga sulit untuk diubah. Lain halnya dengan tata cara yang dilakukan oleh seseorang, pasalnya tata cara jauh lebih konkrit dibandingkan kebiasaan, karena pola yang begitu masif kita tidak bisa menghindari kebiasaan yang secara naluri tersebut itu menghilang. Sebagai salah satu contoh, setiap orang yang akan memakai barang punya teman. Pada hakikatnya, sebaiknya seorang yang sudah lama berteman semakin akrab dan semakin segan akan kepekaan yang terjadi dalam pertemanan, seyogyanya pertemanan itu baik apabila memakai barang itu dibicarakan terlebih dahulu, saling terbuka dan menjelaskan seadanya, kalau salah satu pihak keberatan ia akan diam. Diam yang dimaksud ini kita sedikit membingungkan, ketika kita diam ada satu sisi kita tidak perduli dan bersikap tidak mempermasalahkannya, ada juga diam yang ingin berkata-kata, dalam hal ini diam berkata-kata itu dimungkinkan seorang itu keberatan atas apa yang dilakukan orang lain atau teman karibnya, itu memiliki batas atau penjelasan yang lebih matang lagi.

Suatu hal yang bisa kita temui juga ketika seorang lewat menerobos lampu merah. Kebiasaan ini sering sekali dilakukan banyak orang, demi ingin cepat dan melampaui semuanya, ia rela menerobos lampu merah, tidak memikirkan betapa rendah dan tidak bermoral di masyarakat. Orang-orang mengira ketika ada yang menerobos lampu merah, itu hal yang biasa, tetapi itu sangat miris sekali, prinsip moral yang bijak dalam menanggapi hal tersebut sangatlah fatal dan salah, pasalnya ketika kita belajar di waktu sekolah dasar, hal yang paling utama itu adalah norma sopan santun yang diajarkan guru kepada kita, tetapi didalam masyarakat, norma-norma tersebut tidak dipakai lagi dan itu dilanggar begitu saja.

Ada beberapa hal yang menjadi poin penting bagi kebiasaan ini, yaitu baik atau buruknya efek yang terus menerus kita lakukan. Jadi, kita harus mampu menakar dan menimbang sesuatu yang kita lakukan. Berpikir terdahulu sebelum bertindak jauh lebih baik dibandingkan melakukannya tanpa habis pikir. Dan untuk para pembaca, sekaligus penulis juga masih belajar dari segi norma yang berkembang di masyarakat. Akan tetapi, belajar untuk menghargai di kehidupan kita tidak akan sia-sia dan memiliki dampak baik bagi kelangsungan hidup. Hargai sesama manusia dan belajarlah untuk tidak mengambil hak orang lain, karena sejatinya manusia itu kalau sudah cukup baginya tidak perlu ambil tindakan yang buruk, syukuri dan berusaha terus.

Tinggalkan komentar